Nüwa Menambal Langit yang Patah

Perang Dua Dewa
Di zaman ketika langit dan bumi masih rapuh, hiduplah 共工 (Gòng Gōng), dewa air, dan 祝融 (Zhù Róng), dewa api. Keduanya berperang. Air dan api saling menghantam, dan dalam pertempuran itu Gòng Gōng kalah. Kekalahan membuatnya murka. Ia tidak menerima takdirnya, lalu menanduk gunung 不周山 (Bù Zhōu Shān), salah satu tiang yang menyangga langit.
Tiang itu patah. Sebuah tiang penyangga langit bukanlah batu biasa, dan ketika ia runtuh, sesuatu yang jauh lebih besar ikut runtuh bersamanya. Tali pengikat bumi pun putus. Langit miring ke barat laut, bumi amblas ke tenggara. Dunia yang tadinya stabil mendadak menjadi goyah, seperti rumah yang kehilangan salah satu tiangnya.

Dunia yang Retak
Empat penjuru runtuh, dan sembilan wilayah bumi retak. Langit tidak lagi menaungi semua makhluk di bawahnya, bumi tidak lagi menopang semua yang berdiri di atasnya. Api berkobar tanpa padam. Air membanjir tanpa surut. Binatang buas berkeliaran memangsa manusia, dan burung pemangsa menyambar orang tua maupun anak-anak. Tidak ada tempat yang aman. Tidak ada arah yang tidak rusak.

Di tengah kekacauan itu muncul 女媧 (Nǚ Wā), dewi berkepala manusia dengan tubuh ular. Ia melihat langit yang bolong, bumi yang retak, dan manusia yang tak lagi punya tempat berlindung. Ia tidak menunggu. Ia mulai bekerja.
Batu Lima Warna
Nüwa melebur 五色石 (wǔ sè shí, batu lima warna). Batu-batu itu dilebur hingga mencair, lalu ia menambal langit yang bolong dengan lelehan batu berwarna-warni itu. Sedikit demi sedikit lubang di langit ditutup, dan cahaya kembali jatuh ke bumi dengan utuh.

Namun menambal langit saja belum cukup. Langit butuh penopang. Nüwa memotong kaki kura-kura raksasa 鼇 (áo), lalu menjadikannya sebagai empat tiang penyangga langit yang baru. Dengan empat penopang itu, keempat penjuru kembali stabil. Dunia tidak lagi runtuh.
Masih ada bahaya lain. Ia membunuh 黑龍 (hēi lóng, naga hitam) untuk menyelamatkan wilayah 冀州 (Jì Zhōu). Naga itu mengancam negeri, dan Nüwa menghentikannya. Lalu ia menumpuk 蘆灰 (lú huī, abu alang-alang) untuk membendung air bah yang meluap ke mana-mana. Sedikit demi sedikit, air yang tadinya tak surut mulai tertahan dan menyusut.
Dunia yang Pulih
Langit tertambal. Keempat penjuru stabil. Banjir surut. Binatang ganas mati. Manusia bisa hidup lagi, bercocok tanam, membangun rumah, menyalakan api untuk memasak, bukan untuk membakar. Dunia kembali menjadi tempat yang mungkin ditinggali.

Tetapi dalam tradisi yang menggabungkan kisah ini, satu hal tidak pernah diluruskan: bekas kemiringan kosmis tetap ada. Karena langit condong ke barat laut, matahari, bulan, dan bintang bergerak ke arah sana. Karena bumi lebih rendah di tenggara, air dan sungai-sungai mengalir menuju tenggara. Nüwa tidak menghapus bekas luka dunia. Ia hanya membuat luka itu tidak lagi membunuh.
Versi Lain
Di dalam kitab 淮南子 (Huái Nán Zǐ), langit rusak yang ditambal Nüwa tidak diberi sebab, dan kisah 共工 (Gòng Gōng) menanduk 不周山 (Bù Zhōu Shān) muncul di bab lain karena ia berebut takhta dengan 顓頊 (Zhuān Xū). Pada zaman Tang, 司馬貞 (Sīmǎ Zhēn) mencatat salah satu versi gabungan yang paling jelas: Gòng Gōng berperang melawan Zhù Róng, menabrak Bùzhōu Shān, lalu Nǚ Wā memperbaiki kerusakan dunia.
Kisah ini masih diceritakan sampai sekarang karena ia bukan hanya tentang dewi yang menambal langit. Ia tentang dunia yang pernah rusak dan tetap bisa dipulihkan, tentang kerja yang tidak selalu menghapus semua bekas, tetapi cukup untuk membuat hidup berjalan kembali. Dalam mitologi kuno, kemiringan langit dan arah aliran air menjadi cara untuk menjelaskan dunia yang masih mereka lihat setiap hari, sebuah pengingat akan Nüwa yang pernah menambal langit dan tidak pernah meminta balas budi.
Salin tautan: ketuk sekali untuk memilih seluruhnya.https://blog.hokkhi.id/nuwa-menambal-langit