Tiong Chiu (Mid Autumn Festival) 2026: Merayakan Pertengahan Musim Gugur

Apa Itu Tiong Chiu
Tiong Chiu (中秋, dibaca zhōng qiū, artinya "pertengahan musim gugur") adalah salah satu perayaan terbesar dalam tradisi Tionghoa. Orang Indonesia sering menyebutnya Festival Kue Bulan, sebab kue bulan, yang dalam lafal Hokkian disebut Tiong Chiu Pia (中秋餅, "kue pertengahan musim gugur"), menjadi lambang yang paling melekat pada perayaan ini.
Perayaan ini bukan sekadar soal makanan. Banyak keluarga memaknainya sebagai malam berkumpul di bawah bulan purnama, mengenang cerita lama, dan bersyukur atas hasil kerja setahun. Asalnya memang perayaan panen: di Tiongkok, pertengahan musim gugur adalah saat hasil ladang dikumpulkan.
Kenapa Tanggalnya Berubah Setiap Tahun
Tiong Chiu selalu jatuh pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek, malam ketika bulan purnama. Satu bulan Imlek mengikuti satu putaran bulan, sekitar 29,5 hari, sehingga tanggal Masehinya bergeser dari tahun ke tahun. Pada 2026 Tiong Chiu jatuh pada Jumat, 25 September 2026, dan pada 2027 jatuh pada 15 September.
Nama "pertengahan musim gugur" berasal dari cara lama membagi musim: bulan ke-7, ke-8, dan ke-9 Imlek adalah musim gugur, dan tanggal 15 bulan ke-8 tepat di tengahnya. Tahun ini Tiong Chiu datang dua hari sesudah 秋分 (qiū fēn, "titik tengah musim gugur"), penanda musim ketika siang dan malam hampir sama panjang. Nama musimnya berasal dari iklim Tiongkok. Di Indonesia tidak ada musim gugur, tetapi bulan purnamanya sama.
Kue Bulan dan Cerita Chang E
Kue bulan adalah kue bulat berisi pasta kacang merah, pasta biji teratai, atau kuning telur asin. Bentuk bulatnya melambangkan bulan purnama dan keluarga yang berkumpul utuh (團圓, tuán yuán). Kue ini biasa dipotong dan dibagi untuk seisi rumah, lalu dinikmati bersama teh.
Chang E (嫦娥, cháng é) adalah tokoh legenda yang tinggal di bulan. Versi yang paling dikenal bercerita tentang suaminya, pemanah Hou Yi (后羿, hòu yì), yang menembak jatuh sembilan dari sepuluh matahari yang membakar bumi dan diberi ramuan keabadian sebagai hadiah. Chang E meminum ramuan itu, tubuhnya menjadi ringan, lalu melayang ke bulan dan tinggal di sana ditemani seekor kelinci giok (玉兔, yù tù). Versinya bermacam-macam. Ada yang menyebut Chang E mencuri ramuan itu, ada yang menyebutnya menyelamatkan ramuan itu dari orang jahat, tetapi semuanya berakhir sama: Chang E di bulan, dan orang di bumi menatapnya setiap malam purnama.
Apa yang Biasanya Dilakukan Orang
Tiong Chiu tidak dirayakan secara seragam. Setiap keluarga dan daerah punya caranya sendiri, tetapi beberapa kebiasaan cukup umum:
- Berkumpul bersama keluarga besar pada malam hari.
- Memotong dan membagi kue bulan sambil minum teh.
- Menatap bulan purnama dan bercerita tentang Chang E.
- Menyalakan lampion, terutama bersama anak-anak.
- Mengirim kue bulan sebagai bingkisan kepada kerabat, rekan, dan teman.
- Bagi keluarga yang masih menjalankannya, bersembahyang kepada bulan (拜月, bài yuè, "menghormat bulan") dengan sesaji kue dan buah.
Di Indonesia, toko kue dan hotel biasanya mulai menjual kue bulan beberapa minggu sebelumnya, dan kotak kue bulan menjadi bingkisan yang lazim antarkeluarga maupun antarrekan usaha.

Menghargai Kebersamaan
Yang membuat Tiong Chiu bertahan berabad-abad justru kesederhanaannya. Tidak ada ritual yang wajib dan tidak ada pesta yang harus besar. Yang dirayakan adalah keluarga yang berkumpul utuh di bawah bulan yang juga sedang utuh.

Bagi yang jauh dari rumah, malam ini sering menjadi malam paling rindu. Penyair Su Shi (蘇軾, sū shì) menulis 但願人長久,千里共嬋娟 (dàn yuàn rén cháng jiǔ, qiān lǐ gòng chán juān), kurang lebih "semoga kita panjang umur, dan meski terpisah ribuan li tetap memandang bulan yang sama". Menatap bulan yang sama dari tempat yang berbeda adalah cara lama orang Tionghoa merasa dekat.
Selamat merayakan Tiong Chiu. Semoga purnama tahun ini mempertemukanmu dengan orang-orang yang kamu sayangi, dekat maupun jauh.
Salin tautan: ketuk sekali untuk memilih seluruhnya.https://blog.hokkhi.id/tiong-chiu-25-sep-2026